Membicarakan Sinema Digital Indonesia

 

Film merupakan satu karya manusia yang dari awalnya bisa tercipta dengan kehadiran teknologi. Teknologi dalam kemampuannya mewujudnyatakan imajinasi pada tiap masa tentu berbeda. Dari masa-masa semua serba analog dalam proses pembuatannya sampai pemutarannya, kini dunia perfilman terus menghadapi perkembangannya sampai sekarang ke tren sinema digital. Era sekarang yang terus berkembang mengalami perubahan perangkat-perangkat lama tergantikan dengan kehadiran alat-alat yang serba digital. Bagaimana kehadiran teknologi yang menghampiri dunia perfilman –khususnya- Indonesia memberi dampak, inilah yang dengan sangat hangat dibicarakan di Serambi Salihara pada Selasa malam 5 Maret 2013. Galeri Salihara yang selalu terang oleh kegiatan seni dan budaya ini bersama Hivos menyelenggarakannya dengan tajuk “Sejumlah Masalah Sinema Digital Indonesia”, dengan menghadirkan kritikus film senior, J.B. Kristianto dan sutradara kawakan Riri Riza sebagai pembicara.

Image

Kedua pembicara mengawali diskusi dengan memaparkan hal-hal yang dalam keseharian yang mereka alami dalam lapangan profesionalnya. Bahwa setiap hal ada untung ruginya, dalam film juga ditemukan. Di satu sisi era digital dirasakan sangat membantu para pembuat film untuk mengakomodasi ide-ide untuk diwujudkan dalam media audio-visual, yang pada pembuatannya teknologi digital ini semakin bisa mencipta karya yang dalam teknologi sebelumnya belum bisa dilakukan. Terlebih lagi dalam waktu yang dihabiskan untuk memproduksinya semakin singkat dengan kehadiran teknologi digital ini, misalnya dalam proses render yang dulu bisa berlipat-lipat dari durasi film, sekarang bisa dikatakan, dalam real time. Belum lagi dalam proses pendistribusiannya yang membutuhkan tenaga dan waktu karena cara konvensional yang tidak memungkinkan, namun, sekarang pemutarannya pun lebih mudah. Masalah-masalah yang ditemukan dalam sinema digital ini juga dipaparkan oleh pembicara selain biaya yang harus lebih untuk dikeluarkan, bahwa ada hal yang belum tergantikan oleh teknologi-teknologi baru itu. Seperti misalnya yang dilakukan Riri Riza pada film terbarunya Atambua 39 derajat celcius menggunakan kamera DSLR, diantara kemudahan dan kelebihannya ada yang terhilang, terlebih ketika film diangkat ke layar lebar. Selain perbedaan karakter terhadap lighting, dalam menangkap gambar, masalah audio menjadi salah satu hal yang ditemukan tidak lebih bagus dibanding kamera-kamera yang besarnya berkali-kali lipat. Riri menambahkan hal tersebut sebenarnya menjadi pilihan yang ditentukan oleh apa yang dibutuhkan dalam film tersebut, dalam film tersebut kamera DSLR-lah yang menjadi pilihannya. Bagi beberapa sutradara juga demikian, kehadiran teknologi digital memang menambah pilihan, dengan pilihan yang mana bisa memfasilitasi imajinasi dalam kepala sutradara bisa diwujudkan. Dari perspektif lain yang lebih luas dalam cakupan industri, Kris mengungkapkan adanya perbedaan biaya produksi antara era pembuatan film, namun proses dengan teknologi digital ini tidak sampai memotong setengah dari proses sebelumnya tapi tetap akan sangat terasa. Dalam suatu produksi film sampai film itu ditayangkan, Kris menerangkan bahwa ada yang disebutnya dengan Production Value, yang dalam artian, ini bukan secara otomatis berbanding lurus dengan estetika. Lagi dalam lingkup industri yang juga menjadi masalah dengan kehadiran teknologi sekarang ini adalah kenyataan bahwa format-format yang tidak sepenuhnya sama dengan sebelumnya mempengaruhi sisi industri, hal ini bisa mengarah ke pendukungan pendistribusian, pemutaran film agar semua support/mendukung, dan ke depannya kita akan sampai pada peralihan itu. Peralihan ini sendiri juga bukan tanpa masalah, hal biaya akan mempengaruhi setiap aspek-aspek dalam siklus industri yang semuanya adalah berantai.

Image

Demikianlah bila berbicara tentang film dalam lingkaran industri. Namun, yang berkembang dalam diskusi adalah film di luar lingkaran mainstream, dalam pemutarannya yang baru di era digital ini juga berkembang beberapa cara alternatif  untuk kita bisa menonton film seperti yang diunggah melalui media-media sosial, festival-festival film, atau komunitas-komunitas yang pada kenyataannya walau ada tetap dirasa kurang. Gedung bioskop yang kurang dari 500 dengan layar yang tak lebih dari seribu, tidak akan mampu menampung semua film untuk ditayangkan di Indonesia. Belum habis film Indonesia sendiri, film impor juga banyak yang diputar di bioskop. Kineforum disebutkan menjadi salah satu alternatif tempat kita bisa menikmati film. Hal menariknya berkaitan dengan teknologi digital dalam perfilman sekarang ini, di saat dengan teknologi sekarang akan semakin banyak film-film yang akan diproduksi karena semangat oleh kemudahan-kemudahan mendapatkan fasilitas untuk memproduksi film, khususnya film pendek, film indie. Nah, dikemanakankah karya-karya tersebut yang berada di luar lingkaran mainstream yang diputar di bioskop-bioskop yang tak menampung film non-mainstream tersebut.

Sungguh hidup diskusi malam itu memunculkan topik-topik tak hanya hal teknis dan industrinya. Dari masalah informasi mengenai finansial yang semakin membuat penasaran sampai aspek-aspek estetika di balik film. Dalam diskusi itu juga dihadiri oleh penulis perempuan, Intan Paramadhita yang lebih menyoroti estetik dalam konten yang bisa saja lebih diangkat dengan teknologi sekarang ini, dalam konteks apa yang Indonesia miliki menjadi komoditi dalam film-film Indonesia.

Di bagian penyelesaian diskusi akhirnya berakhir dengan bukan sebuah kesimpulan pasti, namun tertanamnya awareness dan respect terhadap film Indonesia. Kiranya masalah yang ada bukan menyurutkan semangat berkarya, tapi untuk bisa lebih berkarya dan menghidupkan –iklim- film Indonesia. Diuangkapkan Riri dalam penutup bahwa dia tidak ingin memohon-mohon agar filmnya ditonton karena menganggap itu semacam masokis, kasar. Dari diskusi ini, yang pasti menyisakan bahwa kita masing-masing punya bagian pekerjaan, filmmaker berkarya lebih bagus dan penonton mengapresiasi yang bagus, karena ini pekerjaan kita bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: