Tergantung Cara Bercerita

Banyak yang bilang, “tergantung bagaimana isi ceritanya” bila berbicara tentang cerita. Cerita yang memang lucu, hampir selalu berhasil membuat orang tertawa bagaimanapun cara menceritakannya, cerita yang memang benar-benar sedih bagaimanapun diceritakan tetap bisa membuat orang yang mendengarnya merasakan nuansanya.

Biasanya, jika cerita tentang masalah bangsa, krisis seperti topik di televisi atau surat kabar, bagaimana kesannya?

 

Rabu 22 Mei 2013, Bentara Budaya Jakarta asuhan Kompas Gramedia dipenuhi dan dihangatkan dengan sebuah pagelaran dongeng yang dituturkan oleh pencerita yang terkenal sebagai pencerita ulung baik melalui teater maupun film, Garin Nugroho.

 

Dengan tajuk “Dongen untuk Bangsa” Garin Nugroho menjadi pendongeng yang penceritaan bertema “Energi untuk Kelangsungan Hidup Bangsa” disampaikan dengan dongeng kata dan suara-suara yang dilantunkan oleh Edo Kondologit, aktris senior Widyawati, Cornelia Agatha dan penyanyi Fetty Febiola. Isi cerita disampaikan dongeng-dongeng yang merupakan campuran dari sejarah, komedi, data dan sastra, kemudian diteruskan dengan lantunan suara-suara yang menekankan makna. Para orang tua dan tak kalah anak muda sampai berdiri semua mendekat tenang, seolah didongengkan dengan cerita-cerita secara pelan tapi pasti menjadi kontemplasi. Respon cepat tepuk tangan, dan tawa hangat bersahut-sahutan di malam yang sederhana itu. Sederhana, hanya panggung, satu set piano, dan beberapa kursi dilindungi tenda putih.

 

Kontemplasi yang datang dari dongeng yang mengantar semua yang mendengarnya malam itu ke tempat yang sebagaian besar belum melihatnya, ada di balik gedung-gedung perkantoran, kehidupan di sekitar pabrik-pabrik pengambil energi tanah air Indonesia. Kebanyakan kisah-kisah di Timur Indonesia. Perantara cerita ini akhirnya yang menjadi dongeng namun tak ada alasan untuk membantahnya. Kehidupan-kehidupan manusia dengan semestanya, alamnya, didongengkan sekaligus mengantarkan ke ramalan akan masa depan atas yang terjadi saat ini. Penggunaan energi, tidak boleh hanya memikirkan hari ini, tapi juga harus jaga-jaga terhadap energi yang tak cepat kembali datang setelah dihabiskan. Ada tawa yang mungkin menertawakan masa depan nantinya yang berhasil dibungkus sang sutradara sebagai canda. Ada yang lirih dari suara lelaki dari Timur, ditambah suara wanita yang sudah berapa lelaki jatuh cinta padanya, Widyawati melalui beberapa lagu di antaranya ”Belaian Sayang”, “Serumpun Padi” “Di Bawah Tiang Bendera” serta juga oleh kedua penyanyi wanita lainnya.

 

Di seperempat terakhir dongeng yang dikerumuni oleh orang yang datang dari berbagai sudut Jakarta malam itu, Wakil Mentri ESDM mendapat kesempatan mendongeng tentang hal yang dibidanginya. Sontak, dalam kurang dari 10 menit dia berbicara banyak penonton di sana beranjak dari tempat duduknya, ke belakang menyalakan rokoknya dan sebagainya.

 

Apa yang membuat malam itu terasa mesra dengan topiknya kalau tidak cara sang sutradara bercerita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s